Islam is the best ♥
Senin, 08 Oktober 2012
sebenernya aku mau ngepost entry ini dari jaman baheula, tapi karena belum lahir jadi baru sekarang aku post-in, jangan hiraukan keaneh-anku dan simak baik2 yaaa cerita ini, mengharukan sekali :')
 |
| ceritanya diambil dari bukuku ini |
Alexander Pertz dilahirkan dari kedua orang tua Nasrani pada
tahun 1990 M. Sejak awal ibunya telah memutuskan untuk membiarkannya memilih
agamanya jauh dari pengaruh keluarga atau masyarakat. Begitu dia bisa membaca
dan menulis maka ibunya menghadirkan untuknya buku-buku agama dari seluruh
agama, baik agama langit atau agama bumi.
Setelah membaca dengan mendalam, Alexander memutuskan untuk
menjadi seorang muslim. Padahal ia tak pernah bertemu muslim seorangpun. Dia
sangat cinta dengan agama ini sampai pada tingkatan dia mempelajari sholat, dan
mengerti banyak hukum-hukum syariah, membaca sejarah Islam, mempelajari banyak
kalimat bahasa Arab, menghafal sebagian surat, dan belajar adzan.
Semua itu tanpa bertemu dengan seorang muslimpun.
Berdasarkan bacaan-bacaan tersebut dia memutuskan untuk mengganti namanya yaitu
Muhammad Abdullah, dengan tujuan agar mendapatkan keberkahan Rasulullah saw
yang dia cintai sejak masih kecil. Salah seorang wartawan muslim menemuinya dan
bertanya pada bocah tersebut. Namun, sebelum wartawan tersebut bertanya
kepadanya, bocah tersebut bertanya kepada wartawan itu, "Apakah engkau
seorang yang hafal Al Quran ?"
Wartawan itu berkata: “Tidak.”
Namun sang wartawan dapat merasakan kekecewaan anak itu atas
jawabannya. Bocah itu kembali bertanya ,
“Akan tetapi engkau adalah seorang muslim, dan mengerti bahasa
Arab, bukankah demikian ?”
Dia menghujani wartawan itu dengan banyak pertanyaan.
“Apakah engkau telah menunaikan ibadah haji ?”
“Apakah engkau telah menunaikan umrah ?”
“Bagaimana engkau bisa mendapatkan pakaian ihram ?”
“Apakah pakaian ihram tersebut mahal ?”
“Apakah mungkin aku membelinya di sini, ataukah mereka hanya
menjualnya di Arab Saudi saja ?”
“Kesulitan apa sajakah yang engkau alami, dengan
keberadaanmu sebagai seorang muslim di komunitas yang bukan Islami ?”
Setelah wartawan itu menjawab sebisanya, anak itu kembali
berbicara dan menceritakan tentang beberapa hal berkenaan dengan
kawan-kawannya, atau gurunya, sesuatu yang berkenaan dengan makan atau
minumnya, peci putih yang dikenakannya, ghutrah (surban) yang dia lingkarkan di
kepalanya dengan model Yaman, atau berdirinya di kebun umum untuk
mengumandangkan adzan sebelum dia sholat. Kemudian ia berkata dengan penuh
penyesalan, " Terkadang aku kehilangan sebagian sholat karena
ketidaktahuanku tentang waktu-waktu sholat ". Kemudian wartawan itu
bertanya pada sang bocah, "Apa yang membuatmu tertarik pada Islam ?"
"Mengapa engkau memilih Islam, tidak yang lain saja ?" Bocah itu diam
sesaat dan kemudian menjawab, "Aku tidak tahu, segala yang aku ketahui
adalah dari yang aku baca tentangnya, dan setiap kali aku menambah bacaanku,
maka semakin banyak kecintaanku." Wartawab bertanya kembali, "Apakah
engkau telah puasa Ramadhan ?" Muhammad tersenyum sambil menjawab,
"Ya, aku telah puasa Ramadhan yang lalu secara sempurna. Alhamdulillah,
dan itu adalah pertama kalinya aku berpuasa di dalamnya. Dulunya sulit,
terlebih pada hari-hari pertama." Kemudian dia meneruskan : "Ayahku telah
menakutiku bahwa aku tidak akan mampu berpuasa, akan tetapi aku berpuasa dan
tidak mempercayai hal tersebut".
"Apakah cita-citamu ?" tanya wartawan. Dengan cepat Muhammad
menjawab, “Aku memiliki banyak cita-cita. Aku berkeinginan untuk pergi ke Makkah
dan mencium Hajar Aswad.” , “Sungguh aku perhatikan bahwa keinginanmu untuk
menunaikan ibadah haji adalah sangat besar. Adakah penyebab hal tersebut ? “ tanya
wartawan lagi. Ibu Muhamad untuk pertama kalinya ikut angkat bicara, dia
berkata : “Sesungguhnya gambar Kabah telah memenuhi kamarnya, sebagian manusia
menyangka bahwa apa yang dia lewati pada saat sekarang hanyalah semacam
khayalan, semacam angan yang akan berhenti pada suatu hari. Akan tetapi mereka
tidak mengetahui bahwa dia tidak hanya sekedar serius, melainkan mengimaninya
dengan sangat dalam sampai pada tingkatan yang tidak bisa dirasakan oleh orang
lain.”
Tampaklah senyuman di wajah Muhammad Abdullah, dia melihat
ibunya membelanya. Kemudian dia memberikan keterangan kepada ibunya tentang
thawaf di sekitar Kabah, dan bagaimanakah haji sebagai sebuah lambang persamaan
antar sesama manusia sebagaimana Tuhan telah menciptakan mereka tanpa memandang
perbedaan warna kulit, bangsa, kaya, atau miskin. Kemudian Muhammad meneruskan,
“Sesungguhnya aku berusaha mengumpulkan sisa dari uang sakuku setiap minggunya
agar aku bisa pergi ke Makkah Al-Mukarramah pada suatu hari. Aku telah
mendengar bahwa perjalanan ke sana membutuhkan biaya 4 ribu dollar, dan
sekarang aku mempunyai 300 dollar.”
Ibunya menimpalinya seraya berkata untuk berusaha
menghilangkan kesan keteledorannya, “Aku sama sekali tidak keberatan dan
menghalanginya pergi ke Makkah, akan tetapi kami tidak memiliki cukup uang
untuk mengirimnya dalam waktu dekat ini.” , “Apakah cita-citamu yang lain ?” tanya
wartawan. “Aku bercita-cita agar Palestina kembali ke tangan kaum muslimin. Ini
adalah bumi mereka yang dicuri oleh orang-orang Israel (Yahudi) dari mereka.” jawab
Muhammad. Ibunya melihat kepadanya dengan penuh keheranan. Maka diapun
memberikan isyarat bahwa sebelumnya telah terjadi perdebatan antara dia dengan
ibunya sekitar tema ini.
Muhammad berkata, “Ibu, engkau belum membaca sejarah,
bacalah sejarah, sungguh benar-benar telah terjadi perampasan terhadap
Palestina.” , “Apakah engkau mempunyai cita-cita lain ?” tanya wartawan lagi.
Muhammad menjawab, “Cita-citaku adalah aku ingin belajar bahasa Arab, dan
menghafal Al Quran.” , “Apakah engkau berkeinginan belajar di negeri Islam ?” tanya
wartawan Maka dia menjawab dengan meyakinkan. “Apakah engkau mendapati
kesulitan dalam masalah makanan ? Bagaimana engkau menghindari daging babi ?” Muhammad
menjawab, “Babi adalah hewan yang sangat kotor dan menjijikkan. Aku sangat
heran, bagaimanakah mereka memakan dagingnya. Keluargaku mengetahui bahwa aku
tidak memakan daging babi, oleh karena itu mereka tidak menghidangkannya
untukku. Dan jika kami pergi ke restoran, maka aku kabarkan kepada mereka bahwa
aku tidak memakan daging babi.” , “Apakah engkau sholat di sekolahan ?” , “Ya,
aku telah membuat sebuah tempat rahasia di perpustakaan yang aku shalat di sana
setiap hari” jawab Muhammad. Kemudian datanglah waktu shalat maghrib di tengah
wawancara. Bocah itu langsung berkata kepada wartawan, “Apakah engkau
mengijinkanku untuk mengumandangkan adzan ?” Kemudian dia berdiri dan
mengumandangkan adzan.
Dan tanpa terasa, air mata mengalir di kedua mata sang
wartawan ketika melihat dan mendengarkan bocah itu menyuarakan adzan.
Bener-bener cerita yang mengundang decak kagum bukan ?
Islam memang agama yang paling shahih dan sempurna :)
Back to top.
2:43 PM
|
♥
Im miss arabic , n soon be a mrs. alydrus :) ♥ amin o:)
17 years old , maniac love chocolate n brownies , all i want is being a good person
use GOOGLE CHROME BROWSER if u want to win a prize
nothing special here , so you can go home now (?)
|
Islam is the best ♥
Senin, 08 Oktober 2012
sebenernya aku mau ngepost entry ini dari jaman baheula, tapi karena belum lahir jadi baru sekarang aku post-in, jangan hiraukan keaneh-anku dan simak baik2 yaaa cerita ini, mengharukan sekali :')
 |
| ceritanya diambil dari bukuku ini |
Alexander Pertz dilahirkan dari kedua orang tua Nasrani pada
tahun 1990 M. Sejak awal ibunya telah memutuskan untuk membiarkannya memilih
agamanya jauh dari pengaruh keluarga atau masyarakat. Begitu dia bisa membaca
dan menulis maka ibunya menghadirkan untuknya buku-buku agama dari seluruh
agama, baik agama langit atau agama bumi.
Setelah membaca dengan mendalam, Alexander memutuskan untuk
menjadi seorang muslim. Padahal ia tak pernah bertemu muslim seorangpun. Dia
sangat cinta dengan agama ini sampai pada tingkatan dia mempelajari sholat, dan
mengerti banyak hukum-hukum syariah, membaca sejarah Islam, mempelajari banyak
kalimat bahasa Arab, menghafal sebagian surat, dan belajar adzan.
Semua itu tanpa bertemu dengan seorang muslimpun.
Berdasarkan bacaan-bacaan tersebut dia memutuskan untuk mengganti namanya yaitu
Muhammad Abdullah, dengan tujuan agar mendapatkan keberkahan Rasulullah saw
yang dia cintai sejak masih kecil. Salah seorang wartawan muslim menemuinya dan
bertanya pada bocah tersebut. Namun, sebelum wartawan tersebut bertanya
kepadanya, bocah tersebut bertanya kepada wartawan itu, "Apakah engkau
seorang yang hafal Al Quran ?"
Wartawan itu berkata: “Tidak.”
Namun sang wartawan dapat merasakan kekecewaan anak itu atas
jawabannya. Bocah itu kembali bertanya ,
“Akan tetapi engkau adalah seorang muslim, dan mengerti bahasa
Arab, bukankah demikian ?”
Dia menghujani wartawan itu dengan banyak pertanyaan.
“Apakah engkau telah menunaikan ibadah haji ?”
“Apakah engkau telah menunaikan umrah ?”
“Bagaimana engkau bisa mendapatkan pakaian ihram ?”
“Apakah pakaian ihram tersebut mahal ?”
“Apakah mungkin aku membelinya di sini, ataukah mereka hanya
menjualnya di Arab Saudi saja ?”
“Kesulitan apa sajakah yang engkau alami, dengan
keberadaanmu sebagai seorang muslim di komunitas yang bukan Islami ?”
Setelah wartawan itu menjawab sebisanya, anak itu kembali
berbicara dan menceritakan tentang beberapa hal berkenaan dengan
kawan-kawannya, atau gurunya, sesuatu yang berkenaan dengan makan atau
minumnya, peci putih yang dikenakannya, ghutrah (surban) yang dia lingkarkan di
kepalanya dengan model Yaman, atau berdirinya di kebun umum untuk
mengumandangkan adzan sebelum dia sholat. Kemudian ia berkata dengan penuh
penyesalan, " Terkadang aku kehilangan sebagian sholat karena
ketidaktahuanku tentang waktu-waktu sholat ". Kemudian wartawan itu
bertanya pada sang bocah, "Apa yang membuatmu tertarik pada Islam ?"
"Mengapa engkau memilih Islam, tidak yang lain saja ?" Bocah itu diam
sesaat dan kemudian menjawab, "Aku tidak tahu, segala yang aku ketahui
adalah dari yang aku baca tentangnya, dan setiap kali aku menambah bacaanku,
maka semakin banyak kecintaanku." Wartawab bertanya kembali, "Apakah
engkau telah puasa Ramadhan ?" Muhammad tersenyum sambil menjawab,
"Ya, aku telah puasa Ramadhan yang lalu secara sempurna. Alhamdulillah,
dan itu adalah pertama kalinya aku berpuasa di dalamnya. Dulunya sulit,
terlebih pada hari-hari pertama." Kemudian dia meneruskan : "Ayahku telah
menakutiku bahwa aku tidak akan mampu berpuasa, akan tetapi aku berpuasa dan
tidak mempercayai hal tersebut".
"Apakah cita-citamu ?" tanya wartawan. Dengan cepat Muhammad
menjawab, “Aku memiliki banyak cita-cita. Aku berkeinginan untuk pergi ke Makkah
dan mencium Hajar Aswad.” , “Sungguh aku perhatikan bahwa keinginanmu untuk
menunaikan ibadah haji adalah sangat besar. Adakah penyebab hal tersebut ? “ tanya
wartawan lagi. Ibu Muhamad untuk pertama kalinya ikut angkat bicara, dia
berkata : “Sesungguhnya gambar Kabah telah memenuhi kamarnya, sebagian manusia
menyangka bahwa apa yang dia lewati pada saat sekarang hanyalah semacam
khayalan, semacam angan yang akan berhenti pada suatu hari. Akan tetapi mereka
tidak mengetahui bahwa dia tidak hanya sekedar serius, melainkan mengimaninya
dengan sangat dalam sampai pada tingkatan yang tidak bisa dirasakan oleh orang
lain.”
Tampaklah senyuman di wajah Muhammad Abdullah, dia melihat
ibunya membelanya. Kemudian dia memberikan keterangan kepada ibunya tentang
thawaf di sekitar Kabah, dan bagaimanakah haji sebagai sebuah lambang persamaan
antar sesama manusia sebagaimana Tuhan telah menciptakan mereka tanpa memandang
perbedaan warna kulit, bangsa, kaya, atau miskin. Kemudian Muhammad meneruskan,
“Sesungguhnya aku berusaha mengumpulkan sisa dari uang sakuku setiap minggunya
agar aku bisa pergi ke Makkah Al-Mukarramah pada suatu hari. Aku telah
mendengar bahwa perjalanan ke sana membutuhkan biaya 4 ribu dollar, dan
sekarang aku mempunyai 300 dollar.”
Ibunya menimpalinya seraya berkata untuk berusaha
menghilangkan kesan keteledorannya, “Aku sama sekali tidak keberatan dan
menghalanginya pergi ke Makkah, akan tetapi kami tidak memiliki cukup uang
untuk mengirimnya dalam waktu dekat ini.” , “Apakah cita-citamu yang lain ?” tanya
wartawan. “Aku bercita-cita agar Palestina kembali ke tangan kaum muslimin. Ini
adalah bumi mereka yang dicuri oleh orang-orang Israel (Yahudi) dari mereka.” jawab
Muhammad. Ibunya melihat kepadanya dengan penuh keheranan. Maka diapun
memberikan isyarat bahwa sebelumnya telah terjadi perdebatan antara dia dengan
ibunya sekitar tema ini.
Muhammad berkata, “Ibu, engkau belum membaca sejarah,
bacalah sejarah, sungguh benar-benar telah terjadi perampasan terhadap
Palestina.” , “Apakah engkau mempunyai cita-cita lain ?” tanya wartawan lagi.
Muhammad menjawab, “Cita-citaku adalah aku ingin belajar bahasa Arab, dan
menghafal Al Quran.” , “Apakah engkau berkeinginan belajar di negeri Islam ?” tanya
wartawan Maka dia menjawab dengan meyakinkan. “Apakah engkau mendapati
kesulitan dalam masalah makanan ? Bagaimana engkau menghindari daging babi ?” Muhammad
menjawab, “Babi adalah hewan yang sangat kotor dan menjijikkan. Aku sangat
heran, bagaimanakah mereka memakan dagingnya. Keluargaku mengetahui bahwa aku
tidak memakan daging babi, oleh karena itu mereka tidak menghidangkannya
untukku. Dan jika kami pergi ke restoran, maka aku kabarkan kepada mereka bahwa
aku tidak memakan daging babi.” , “Apakah engkau sholat di sekolahan ?” , “Ya,
aku telah membuat sebuah tempat rahasia di perpustakaan yang aku shalat di sana
setiap hari” jawab Muhammad. Kemudian datanglah waktu shalat maghrib di tengah
wawancara. Bocah itu langsung berkata kepada wartawan, “Apakah engkau
mengijinkanku untuk mengumandangkan adzan ?” Kemudian dia berdiri dan
mengumandangkan adzan.
Dan tanpa terasa, air mata mengalir di kedua mata sang
wartawan ketika melihat dan mendengarkan bocah itu menyuarakan adzan.
Bener-bener cerita yang mengundang decak kagum bukan ?
Islam memang agama yang paling shahih dan sempurna :)
Back to top.
2:43 PM
|